Setelah serangkaian serangan berdarah yang melanda Eropa baru-baru ini, situasi di benua ini telah berubah drastis. Perancis tampaknya hidup dalam keadaan yang sering darurat hari ini, sementara Belgia meningkatkan kesiapan tempurnya. Berita-berita sedih datang dari Jerman, yang sebelumnya telah berhasil menghindari tragedi untuk waktu yang lama.
Konsekuensi dari serangan-serangan teroris baru ini dapat dilihat di mana-mana di Eropa, dalam kegiatan sehari-hari warga Eropa, situasi di jalan-jalan dan pada perekonomian yang menurun. Kebanyakan kota-kota besar Eropa sekarang dipatroli dengan pasukan-pasukan keamanan bersenjata, sementara rumah-rumah ibadah, stasiun dan bandara dijaga dengan ketat. Penyeberangan antar perbatasan sekarang ini hampir ditutup. Kemacetan panjang sepanjang 11 kilometer di persimpangan perbatasan antara Spanyol dan Perancis.
Presiden Perancis Francois Hollande telah mengirimkan lebih dari 10.000 tentara dan menuntut untuk memperluas jajaran pasukan cadangan.
Seperti yang telah ditunjukkan oleh serangan teroris baru-baru ini di Eropa, ISIS telah menggunakan keuntungan penuh dari arus pengungsi, yang menyediakan militan radikal ini kesempatan untuk menyusup Eropa, Neue Osnabrucker Zeitung melaporkan. Menurut kantor Kepolisian Federal Jerman, jumlah pengungsi yang semakin meningkat ini dicurigai memiliki koneksi teroris. Badan sipil ini mencatat bahwa sudah ada lebih dari 410 tersangka yang berlindung terlibat dalam setidaknya 60 kasus.
Di Belgia, serangan teroris baru-baru ini telah memicu paranoid di kalangan penduduk setempat. Dalam jajak pendapat terbaru, lebih dari 44% penduduk lokal merasa tidak aman, 36% menyatakan bahwa mereka takut menggunakan kereta bawah tanah. Satu dari empat penduduk negara tersebut sekarang takut untuk mengunjungi Brussels.
Sejumlah negara Eropa kini menghadapi ancaman internal dari para mantan militan yang telah kembali dari Irak dan Suriah, di mana mereka melakukan kejahatan-kejahatan atas nama ISIS. Pada akhir Februari, Pusat Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik Internasional yang terletak di London menyediakan angka-angka ini di media sosial: total 800 warga Jerman telah bergabung dengan ISIS sejak awal konflik di Suriah, sepertiga dari mereka telah kembali ke Jerman. Penelitian oleh The Pew Research Center menunjukkan bahwa warga Eropa khawatir masuknya pengungsi di negara mereka karena ini dapat menyebabkan lonjakan jumlah serangan teroris.
Warga Eropa tampaknya tidak dapat menyetujui kebijakan migrasi yang seharusnya diupayakan oleh Uni Eropa. Kebijakan migrasi yang ada saat ini dipertahankan oleh Kanselir Jerman Angela Merkel, yang hanya meningkatkan jumlah mereka yang menuntutnya untuk mengundurkan diri. Kebijakan ini telah menyebabkan Inggris meninggalkan Uni Eropa karena kepatuhannya yang buta terhadap perintah Washington.
Suasana “xenophobia” di Eropa semakin kuat sementara jumlah pengungsi yang telah sampai di Uni Eropa telah meningkat. Sebagai fakta rakyat Eropa telah membayar petualangan-petualangan militer yang dilakukan oleh AS di Timur Tengah. Keinginan buta Washington untuk melestarikan “hegemoni” nya di seluruh dunia melalui penggunaan senjata mematikan. Hasil dari nafsu yang hampa ini adalah kekacauan, kelaparan, krisis pengungsi dan ribuan kematian di Timur Tengah dan Afrika, menghasut kebencian dan keinginan untuk membalas dendam.
Sementara menikmati manfaat karena berada sangat jauh dari kekacauan yang telah diciptakannya, AS telah memberikan sekutu-sekutu Eropanya dengan konsekuensi dari petualangan militernya di Libya, Afghanistan, Irak dan sejumlah negara lainnya.
Jadi, sepertinya seluruh Eropa akan lebih baik jika mengakui fakta bahwa agresi bersenjata terhadap Libya, Afghanistan, Irak, Suriah dan negara-negara Timur Tengah lainnya adalah sebuah tindakan kriminal. Akankah para politisi Eropa memiliki keberanian untuk mengakui kenyataan tersebut dan menyerukan penyelidikan internasional yang adil dari peristiwa-peristiwa ini yang diikuti oleh pengadilan internasional yang akan menhukum mereka ynag bertanggung jawab?
Mengapa Eropa mau saja harus membayar dosa-dosa AS?
