• Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
    • BeritaSatu
  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    • GAYA
    • PSIKOLOGI & KESEHATAN
    • PERSONA
    • RILIS
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
    • BeritaSatu
Menu
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • SPORT
  • ENTERTAINMENT
  • SAINSTEKNO
  • GAYA
  • PSIKOLOGI & KESEHATAN
  • PERSONA
  • RILIS
  • FEATURES
  • OPINI

Ada Korelasi antara Gen dan Kebahagiaan Seseorang

Follow @GALABERITA
Category Category: PSIKOLOGI & KESEHATAN

Meski bukan yang utama, tapi ternyata gen juga mempengaruhi kebahagiaan seseorang, begitu pula sebaliknya.


Ilmuwan terus meneliti lebih banyak tentang hubungan antara genetika dan tingkat kebahagiaan. Meskipun sulit untuk memastikan apakah ada hubungan sebab akibat antara gen dan kebahagiaan seseorang, namun ada beberapa penelitian psikologi menarik tentang hal itu.

American Psychological Association telah menerbitkan sebuah studi yang meneliti DNA partisipan dan reaktivitas emosianal mereka secara keseluruhan. Secara khusus, mereka mengamati gen 5-HTTLPR, yang diyakini ilmuwan memainkan peran dalam transmisi serotonin—hormon yang terkait erat dengan depresi, kecemasan, dll.

"Temuan ini menunjukkan bahwa sepertinya ada interaksi kecil tapi signifikan antara gen transporter serotonin dengan stres dan depresi,” ujar Srijan Sen, seorang psikiatri di University of Michigan Health System. Sen dan rekan-rekannya menganalisis 54 studi yang membahas tentang hubungan depresi dan gen 5-HTTLPR.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa alel pendek 5-HTTLPR lebih rentan terhadap depresi. Sehingga didapat kesimpulan bahwa individu dengan alel 5-HTTLPR pendek lebih cenderung kurang tahan terhadap depresi.

Sebaliknya, kebahagiaan juga dapat mempengaruhi ekspresi gen. Menurut studi dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, bentuk kebahagiaan yang berbeda dapat menghasilkan bentuk ekspresi gen yang berbeda pula.

Partisipan yang kebahagiaannya berasal dari aktivitas yang menjunjung tinggi kebajikan, menunjukkan rendahnya tingkat ekspresi gen inflamasi dan ekspresi yang kuat pada gen antivirus dan antibodi. Sebaliknya, orang yang kebahagiaannya berasal dari materi menunjukkan ekspresi gen inflamasi yang tinggi dan ekspresi gen antivirus dan antibodi yang rendah.

Meski begitu, komponen genetik ini hanyalah salah satu faktor yang berpengaruh pada kebahagiaan. Hubungan manusia, gaya hidup sehat, kepuasan dalam bekerja dan faktor-faktor lain memegang peran yang lebih besar dalam menentukan kebahagiaan kita.

Lutfi Fauziah/Sumber: Discovery News, Live Science via NatGeo

Follow @GALABERITA

Bom di Pesta Pernikahan di Turki, 30 Tewas

Ahok Bengis Seperti Bandit, Kata Amien Rais

Kata Djarot: Saya dan PDIP Satu Paket

177 Jemaah Haji ilegal Indonesia Ditangkap di Filipina

Setelah Erdogan Merapat ke Putin, Sikap Turki Terhadap Suriah Berubah

Bom di Pesta Pernikahan di Turki, 30 Tewas

Ahok Bengis Seperti Bandit, Kata Amien Rais

Kata Djarot: Saya dan PDIP Satu Paket

177 Jemaah Haji ilegal Indonesia Ditangkap di Filipina

Setelah Erdogan Merapat ke Putin, Sikap Turki Terhadap Suriah Berubah

Presiden dan Sejumlah Menteri Rapat Maritim di Tepi Danau Toba

Komunisme Sudah Mati Dimangsa Kapitalisme

Misteri Deja Vu Akhirnya Terpecahkan

Obama dan Dusta Perang Melawan Teroris di Suriah

Patung Donald Trump, Intermeso Pilpres AS

Krishnayana, Diaspora Indonesia Pendiri iSpionage di California

Mungkin Anda Stroke Kalau Mengalami Ini

Bila Otak Anda Mati, Apa yang Terjadi?

Ini Jenis Fobia yang Mungkin Anda Miliki

Saya 31 Tahun, Masih Perjaka, Kecanduan Pornografl

Cara Menghilangkan Rasa Trauma

Banyak Dibaca

Demi Menyusui Pacarnya Tiap Dua Jam, Wanita Ini Berhenti Bekerja

Dewan Kesepian Jakarta: Menjadi jomblo dan tetap baik-baik saja

Ini 8 Diktator Paling Kejam dalam Sejarah Dunia

Perang Narkoba di Filipina dan Cara Cepat Menjadi Gila

Generasi Tanpa Ayah, Anak-Anak yang Terlahir dari Wisata Syahwat

Orang Ambivert adalah Ekstrovert sekaligus Introvert

Suatu Malam di Majelis Zikir Sufi di Katedral St. John

Beginilah ISIS Jual Minyak Curian Ke Israel via Turki

Perubahan Urutan Pancasila dan Perdebatan Syariat Islam di Piagam Jakarta

Masjid bekas gereja dengan lukisan Yesus yang masih dipertahankan

Kisah Perempuan Indonesia Penyelamat Harimau

Sering Salah Panggil Nama Orang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Bisakah Otak Berkembang Setelah Usia Dewasa? Bisa, Ini Caranya

Mengapa Manusia Bisa Merasakan Jika Ada Seseorang yang Menatapnya?

Inilah Fakta Pengaruh Ajaran Fethullah Gulen di Indonesia

Ini Sebabnya Mengapa Hitler Pakai Kumis Model Sikat Gigi

Diremas Dadanya Oleh Orangutan, Turis Wanita ini Malah Tertawa

Hadeuh ... Jokowi Adu Panco dengan Kaesang, Lihat Videonya:

Konsep Hijâb dalam Tradisi Yahudi, Nasrani, dan Islam

Saat Bangunan Intelektual Rumi Terkoyak, dan Tenggelam di Dunia Sufi

Ingin Awet Muda, Olahraga dan Kurangi Berat Badan

Mau Langsing? Ini 4 Cara Aktifkan Hormon Penurun Berat Badan

Erdogan dan Gulen, Kawan yang Berubah jadi Lawan

Ada Korelasi antara Gen dan Kebahagiaan Seseorang

Sepakbola Tinju ala Italia, dan Festival Tukang Sihir Jerman

  • Homearrow
  • NEWS & FEATURESarrow
  • PSIKOLOGI & KESEHATAN
Powered by Helix
Copyright © GALABERITA 2016 Vina Junies. All Rights Reserved.Valid XHTML and CSS
Joomla! 3 Templates

Valid CSS!

Goto Top
  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
    • BeritaSatu