Presiden Brasil non aktif Dilma Rousseff, berjanji akan mempercepat pemilihan umum, jika ia selamat dari pemungutan suara untuk memecat dia dari jabatan kepresidenan yang akan diputus pada bulan ini.
Rousseff, dituduh secara ilegal memanipulasi laporan anggaran, dengan menyembunyikan defisit anggaran dari pengetahuan publik menjelang pemilihan presiden yang dimenangkan pada tahun 2014.
Karena kasus itulah, Senat membuka persidangan untuk memproses pemecatan pada tanggal 25 Agustus 2016 mendatang, empat hari setelah Olimpiade Rio berakhir. akan diputus apakah Rousseff tetap menjadi Presiden atau harus meninggalkan jabatannya.
Kantor berita Globo melaporkan bahwa pemungutan suara sebenarnya bisa berlangsung antara 30 Agustus dan 31 Agustus.
Dalam surat yang ditujukan kepada Senat federal dan rakyat Brasil pada Selasa 16 Agustus 2016 , Rousseff mengatakan, masalah politik dan ekonomi Brazil, hanya bisa diselesaikan "melalui suara populer pada pemilihan umum langsung." kata Rosseff dihadapan Senat.
"Pemulihan penuh secara demokrasi mensyaratkan bahwa keputusan berada ditangan rakyat merupakan cara terbaik untuk membangun pemerintahan yang sah dan menyempurnakan sistem politik dan pemilu Brasil," kata Rousseff.
"Ini satu-satunya jalan keluar dari krisis," tambahnya.
Rousseff mengaku telah membuat kesalahan, tapi tidak melakukan apa pun layak untuk dilakukan impeachment.
"Saya telah mendengarkan kritik keras dari pemerintah saya, atas kesalahan yang dilakukan," katanya. "Saya menerima kritik ini dengan kerendahan hati dan tekad sehingga kita dapat membangun cara baru ke depan."
Selanjutnya Rousseff menegaskan bahwa memaksanya keluar dengan melakukan impeachment sama saja dengan melakukan upaya kudeta
Kronologi pemecatan (impeachment) Rousseff:
9 Oktober 2015: Pengadilan Federal Brasil memeriksa hasil Audit memutus bahwa Rousseff melanggar hukum saat mengelola anggaran 2014, membuka jalan bagi kelompok oposisi untuk berpendapat bahwa pemimpin harus diberhentikan.
2 Desember 2015: Eduardo Cunha, the president of the Chamber of Deputies setuju untuk memulai anti-Rousseff dengan memproses impeachment.
11 Desember 2015: Rousseff mengeluarkan petisi sebelum Mahkamah Agung menghentikan proses.
17 Maret 2016: The Chamber of Deputies, Majelis Rendah Kongres Nasional Brasil, memilih komisi impeachment khusus, dengan mayoritas berasal dari koalisi yang berkuasa, termasuk Partai Buruh dan Partai Gerakan Demokratik (PMDB).
29 Maret 2016: The PMDB meninggalkan koalisi yang berkuasa, tentu ini sangat menyakitkan bagi upaya Rousseff untuk menggagalkan proses impeachment.
6 April 2016: Komisi impeachment khusus menerbitkan laporan merekomendasikan pemakzulan Rousseff.
11 April 2016: Komisi impeachment memutuskan, dengan suara 38 lawan 27, sehingga mengijinkan Chamber of Deputies meneruskan proses impeachment presiden.
15 April 2016: Mahkamah Agung Brazil menolak gugatan Rousseff untuk menghentikan proses.
17 April 2016: Sebanyak 367 dari 513 anggota parlemen mendukung impeachment terhadap Rousseff.
12 May 2016: Hasil sidang impeachment Senat dengan suara 55 lawan 22 menonaktifkan presiden selama 180 hari, Rousseff mengecam pemungutan suara di Majelis Tinggi dan Kongres Nasional dan mengatakan ia "dihakimi secara tidak adil."
Wakil Presiden Michel Temer ditunjuk menjadi presiden interim dan mengumumkan kabinet barunya.
24 Mei 2016: Pemerintah sementara kebingungan menyusul bocornya rekaman audio yang menunjukkan adanya plot terhadap Rousseff, menjadi skandal yang memaksa sejumlah menteri kunci dalam kabinet baru mengundurkan diri.
28 Juni 2016: Penyelidikan oleh tim auditor independen, terdiri dari teknisi anggaran, anggota senat, menyimpulkan tidak ada bukti bahwa Rousseff berpartisipasi dalam manipulasi anggaran.
18 Juli 2016: Cunha mengundurkan diri kurang dari tiga bulan setelah ia merancang impeachment.
16 Agustus 2016: Senat mengadakan pemungutan suara dalam sidang impeachment terhadap Rousseff, mendorongnya satu langkah lebih dekat untuk pemecatan Rousseff dari jabatan Presiden dalam sidang lanjutan sepekan setelah upacara penutupan olimpiade.
Dodo Aditya.
Sumber: Press TV
