• Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
    • BeritaSatu
  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    • GAYA
    • PSIKOLOGI & KESEHATAN
    • PERSONA
    • RILIS
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
    • BeritaSatu
Menu
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • SPORT
  • ENTERTAINMENT
  • SAINSTEKNO
  • GAYA
  • PSIKOLOGI & KESEHATAN
  • PERSONA
  • RILIS
  • FEATURES
  • OPINI

Suatu Malam di Majelis Zikir Sufi di Katedral St. John

Follow @GALABERITA
Category Category: FEATURES

Di ruangan belakang masjid al-Farah di West Broadway Manhattan, Amerika Serikat, Lex Hixon, pembimbing sebuah kelompok Sufi, bertutur:

 

Ketika kuliah di Universitas Columbia saya mempelajari agama-agama di dunia. Saya bergabung dengan stasiun radio di New York. Selama empat belas tahun saya melakukan wawancara mingguan dengan para pimpinan dan guru-guru agama dari berbagai kelompok aliran. Dan di stasiun radio itulah saya berjumpa dengan dua syaikh yang hebat. Yang satu adalah Bawa Muhaiyaddeen dari Sri Lanka, yang mempunyai masjid di Philadelphia. Selama itu saya telah mewawancarainya sebelas kali dan saya menjadi sangat dekat dengannya.

Syaikh yang satu lagi adalah Muzaffer Ozak. Saya juga mewawancaramya di radio. Saya belum pernah bertemu Syaikh Muzaffer sebelum mewawancarainya. Saya hanya melihatnya duduk di sana dengan tenang. Kami mengatur semua mikrofon, dan saya minta agar program itu dimulai dengan suara azan. Lalu syaikh itu duduk di hadapan saya. Acara itu disiarkan dari puncak Empire State Building (azan yang kami udarakan membuat Empire State Building menjadi minaret tertinggi di dunia)-ketika panggilan shalat itu dikumandangkan, saya memandang wajah syaikh tersebut. Terlihat tetesan air mata mengalir di wajahnya. Saya pikir: Sungguh sebuah ketulusan spiritual! Dia mendengar panggilan itu lima kali sehari, tetapi tetap saja air matanya berlinang setiap kali mendengarnya.

Pada hari Minggu, kemudian hari Selasa malam, syaikh itu mengadakan majelis zikr di Katedral St. John. Melalui salah seorang darwisnya dia mengirimi saya setangkai bunga mawar. Saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam lingkaran peserta acara zikir itu. Saya berdiri di sudut dengan memegang mawar itu, dan dia terus memandang saya dari tengah lingkaran tersebut. Kemudian dia mengundang saya untuk datang pada hari Kamis malam ke tempat tinggalnya di Spring Valley, New York. Sebelum pergi, dia mencium kening saya. Saya merasakan suatu transmisi spiritual yang sangat hebat.

Malam itu kami melakukan zikir bersama-sama. Keesokan harinya dia berkata, "Saya ingin menjadikan Anda sebagai darwis saya. Saya ingin memberikan nama untuk Anda." Dia melanjutkan, "Namamu adalah Nur." Dan saya berkata, "Saya mempunyai sebuah nama untukmu: Aziz" -- karena nama itulah yang selalu saya pikirkan. Dan semua darwis yang ada di sana terkejut karena Aziz adalah nama rahasia kelompok itu.

Dalam pengamatan saya ada demokrasi yang nyata dalam kolompok sufi. Tak seorang pun yang merasa lebih utama dari yang lain.

Ketika seseorang ingin menjadi penempuh jalan sufi, dia tidak boleh berpikir dalam kerangka kepribadian yang terbatas. Dia harus melihat seluruh kehidupannya semata-mata sebagai sebuah jembatan --yang sangat sempit-- yang membawanya ke suatu tempat di mana dia akan memulai latihan spiritual. 

 
Pada akhirnya dia larut ke dalam pengukuhan La ilaha ill Allah. Jembatan sempit itu merupakan jembatan menuju Surga persatuan. Di bawah jembatan itu terdapat godaan kehidupan duniawi. Dia tidak boleh terperosok ke dalam godaan itu, baik itu godaan finansial maupun godaan religius. Jembatan itu dapat dilewati hanya jika Anda menginginkan kebenaran. Akhirnya Anda akan mencapai tingkat kesadaran surgawi, tingkat tauhid, tingkat persatuan cinta kasih.

Hanya kehendak Tuhan yang berlaku dalam hidup ini. Setiap masalah telah diketahui oleh kehendak yang tak terbatas ini. Jiwa tidak muncul begitu saja bersamaan dengan waktu kelahiran, jiwa itu abadi. Di dalam jiwa tersimpan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidup. Dan hanya sebagian kecil dari pengetahuan itu yang diizinkan Allah untuk diketahui oleh manusia itu sendiri dalam hidupnya. 
 
Begitulah jiwa manusia itu dibentuk, terlepas dari apakah dia dengan penuh kesadaran memeluk Islam atau tidak. Beberapa jiwa mendapat izin dari Tuhan untuk memeluk Islam secara historis. Yang lain mendapat izin untuk memeluk tradisi mulia lainnya. Sebagian yang lain mungkin memperoleh izin untuk mewujudkan kebenaran tanpa menjadi bagian dari salah satu tradisi besar kemanusiaan. Tak ada satu jiwa pun yang tidak berasal dari Allah dan yang tidak membawa semua kekayaan dan pengetahuan yang sebelumnya telah diberikan pada jiwa itu. 
 
Allah menempatkan seseorang dalam suatu keadaan spiritual tertentu. Allah ada dalam hati saya, dalam tarikan nafas saya, dalam seluruh sistem syaraf saya ketika saya berzikir, dan itu merupakan bagian dari kemurnian zikir. Saya dapat beribadah bersama siapa pun dari keyakinan apa pun. Saya benar-benar merasa nyaman dengan hal itu karena saya tidak merancukan agama saya. 
 
Islam seperti organ dunia. Agama ini mempunyai seluk-beluk dan kompleksitas yang sangat besar. Sejak awal terdesentralisasi, sehingga tak ada kekuasaan sentral yang dapat berkata bahwa ini Islami dan itu bukan. Seseorang tentu saja dapat mengatakan bahwa Islam adalah satu kesatuan ekspresi yang utuh, kontradiksi dan perselisihan yang nyata antara para pelaksana Islam yang berbeda sesuatu yang wajar. Itu bukti pendesentralisasian --kebenaran berada dalam hati nurani manusia sebagai individu, dan tidak dipaksakan dari atas. 
 
Tradisi keagamaan hadir untuk membebaskan manusia dan untuk membuat mereka merasakan hubungan langsung dengan Allah yang Mahatinggi. Jadi, sangatlah sulit bagi agama yang murni untuk menindas keyakinan seseorang.

American Jihad, Islam After Malcolm X
Terbitan Bantam Doubleday, Dell Publishing Group, Inc., New York

 
Follow @GALABERITA

Bom di Pesta Pernikahan di Turki, 30 Tewas

Ahok Bengis Seperti Bandit, Kata Amien Rais

Kata Djarot: Saya dan PDIP Satu Paket

177 Jemaah Haji ilegal Indonesia Ditangkap di Filipina

Setelah Erdogan Merapat ke Putin, Sikap Turki Terhadap Suriah Berubah

Bom di Pesta Pernikahan di Turki, 30 Tewas

Ahok Bengis Seperti Bandit, Kata Amien Rais

Kata Djarot: Saya dan PDIP Satu Paket

177 Jemaah Haji ilegal Indonesia Ditangkap di Filipina

Setelah Erdogan Merapat ke Putin, Sikap Turki Terhadap Suriah Berubah

Presiden dan Sejumlah Menteri Rapat Maritim di Tepi Danau Toba

Komunisme Sudah Mati Dimangsa Kapitalisme

Misteri Deja Vu Akhirnya Terpecahkan

Obama dan Dusta Perang Melawan Teroris di Suriah

Patung Donald Trump, Intermeso Pilpres AS

Krishnayana, Diaspora Indonesia Pendiri iSpionage di California

Mungkin Anda Stroke Kalau Mengalami Ini

Bila Otak Anda Mati, Apa yang Terjadi?

Ini Jenis Fobia yang Mungkin Anda Miliki

Saya 31 Tahun, Masih Perjaka, Kecanduan Pornografl

Cara Menghilangkan Rasa Trauma

Banyak Dibaca

Demi Menyusui Pacarnya Tiap Dua Jam, Wanita Ini Berhenti Bekerja

Dewan Kesepian Jakarta: Menjadi jomblo dan tetap baik-baik saja

Ini 8 Diktator Paling Kejam dalam Sejarah Dunia

Perang Narkoba di Filipina dan Cara Cepat Menjadi Gila

Generasi Tanpa Ayah, Anak-Anak yang Terlahir dari Wisata Syahwat

Orang Ambivert adalah Ekstrovert sekaligus Introvert

Suatu Malam di Majelis Zikir Sufi di Katedral St. John

Beginilah ISIS Jual Minyak Curian Ke Israel via Turki

Perubahan Urutan Pancasila dan Perdebatan Syariat Islam di Piagam Jakarta

Masjid bekas gereja dengan lukisan Yesus yang masih dipertahankan

Kisah Perempuan Indonesia Penyelamat Harimau

Sering Salah Panggil Nama Orang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Bisakah Otak Berkembang Setelah Usia Dewasa? Bisa, Ini Caranya

Mengapa Manusia Bisa Merasakan Jika Ada Seseorang yang Menatapnya?

Inilah Fakta Pengaruh Ajaran Fethullah Gulen di Indonesia

Ini Sebabnya Mengapa Hitler Pakai Kumis Model Sikat Gigi

Diremas Dadanya Oleh Orangutan, Turis Wanita ini Malah Tertawa

Hadeuh ... Jokowi Adu Panco dengan Kaesang, Lihat Videonya:

Konsep Hijâb dalam Tradisi Yahudi, Nasrani, dan Islam

Saat Bangunan Intelektual Rumi Terkoyak, dan Tenggelam di Dunia Sufi

Ingin Awet Muda, Olahraga dan Kurangi Berat Badan

Mau Langsing? Ini 4 Cara Aktifkan Hormon Penurun Berat Badan

Erdogan dan Gulen, Kawan yang Berubah jadi Lawan

Ada Korelasi antara Gen dan Kebahagiaan Seseorang

Sepakbola Tinju ala Italia, dan Festival Tukang Sihir Jerman

  • Homearrow
  • NEWS & FEATURESarrow
  • FEATURES
Powered by Helix
Copyright © GALABERITA 2016 Vina Junies. All Rights Reserved.Valid XHTML and CSS
Joomla! 3 Templates

Valid CSS!

Goto Top
  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
    • BeritaSatu