• Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • TV
    • CNN
    • RTNEWS
    • DW
    • ALJAZEERA
    • TVONE
    • METROTV
    • KOMPASTV
    • CCTV AMERICA
    • NHK WORLD
    • EURONEWS
    • I-NEWS
    • NET
    • FASHIONTV
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    • GAYA
    • PSIKOLOGI & KESEHATAN
    • PERSONA
    • RILIS
    • FEATURES
    • OPINI
  • TV
    • CNN
    • RTNEWS
    • DW
    • ALJAZEERA
    • TVONE
    • METROTV
    • KOMPASTV
    • CCTV AMERICA
    • NHK WORLD
    • EURONEWS
    • I-NEWS
    • NET
    • FASHIONTV
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
Menu
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • SPORT
  • ENTERTAINMENT
  • SAINSTEKNO
  • GAYA
  • PSIKOLOGI & KESEHATAN
  • PERSONA
  • RILIS
  • FEATURES
  • OPINI

Telepon Merah Presiden Soeharto

Follow @GALABERITA
Category Category: FEATURES

Suatu malam menjelang pukul 23.00, mendadak “telepon merah,” sambungan hotline antara Presiden Soeharto dan Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), Sudomo berdering keras. Karena biasanya yang telepon selalu ajudan presiden, Sudomo langsung berkata, “Ya, ajudan, apa perintah baru dari Presiden?”


Beberapa detik berlalu tak ada jawaban muncul. Lalu, dari ujung telepon terdengar suara berat, menjawab, “Ya, di sini Soeharto.”

Seketika Sudomo berdiri dan mengambil sikap sempurna.

“Karena rasa terkejutnya, dia malahan sampai tak bisa menyimak dengan cermat,” tulis Julius Pour dalam Laksamana Sudomo, Mengatasi Gelombang Kehidupan.

Emil Salim, mantan menteri lingkungan hidup, mengkonfirmasi mengenai “telepon merah” ketika Soeharto memerintahkan Try Sutrisno, panglima Kodam Sriwijaya, sebagai pemimpin Operasi Ganesha, yaitu menggiring ratusan gajah liar yang masuk ke permukiman transmigran di Air Sugihan, Musi Banyuasin, ke kawasan konservasi satwa di Lebong Hitam pada 25 Desember 1982.

“Melalui telepon merahnya, Soeharto memerintahkan agar jangan menembak gajah-gajah itu tapi menggiring kembali ke hutan,” kenang Emil.

Istilah telepon merah (red phone) muncul dari sistem komunikasi langsung antara pemimpin Amerika Serikat (AS) dengan Uni Soviet saat Krisis Misil Kuba. Jaringannya dibangun setelah penandatangan kesepakatan pada 20 Juni 1963.

Menurut Tom Clavin dalam “There Never Was Such a Thing as a Red Phone in the White House,” www.smithsonianmag.com (19 Juni 2013), jaringan komunikasi tersebut berupa rangkaian kawat telegraf pada kabel transatlantik sepanjang 10.000 mil dari Washington (Pentagon) ke London, Kopenhagen, Stockholm, Helsinki, dan akhirnya ke Moskow (Kremlin). Hotline tersebut mulai beroperasi pada 30 Agustus 1963. AS dan Uni Soviet bertukar perangkat sandi, sehingga AS bisa menerjemahkan pesan yang diterima ke dalam bahasa Inggris dan Soviet bisa menerjemahkan pesan ke dalam bahasa Rusia. Presiden AS, Lyndon Johnson kali pertama menggunakannya untuk berhubungan dengan Perdana Menteri Uni Soviet, Alexei Kosygin, pada 1967.

Hotline Washington-Moskow menjadi salah satu sistem komunikasi tingkat tinggi yang paling terkenal dalam sejarah modern. Dalam budaya populer,hotline ini sering disebut “telepon merah”.

“Mitos hotline ‘telepon merah’, bahwa presiden bisa menghubungi Kremlin kapan saja, datang dari berbagai-macam sumber budaya populer,” tulis Clavin. Dua film pada 1964 memvisualkan telepoh merah.


Penggambaran “telepon merah” yang terkenal terdapat dalam film serial televisi Batman pada akhir 1960-an. Karena penggambaran itulah banyak orang berpikir ia saluran telepon, dengan pesawat telepon berwarna merah bertengger di meja presiden. Padahal tak ada pesawat telepon, apalagi berwarna merah, melainkan sambungan telegraf yang kemudian ditambahkan dengan jaringan komunikasi satelit, faksimili berkecepatan tinggi, hingga jaringan komputer yang sangat aman agar bisa melakukan pembicaraan atau pesan via email.

Setelah berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet, hotline ini mulai kehilangan maknanya. Saluran komunikasi langsung kemudian lebih banyak dipakai. Bukan hanya untuk menghubungkan seorang presiden kepada sejawatnya di luar negeri tapi juga dengan para bawahannya. Dan istilah “telepon merah” tetap bertahan.

Menurut Clavin, suatu waktu mungkin hotline “telepon merah” tidak lagi diperlukan. Dalam konferensi pers bersama Presiden Rusia Dmitry Medvedev pada 2010, Presiden AS Barack Obama bercanda bahwa Twitter telah menggantikan hotline. “Kami mungkin akhirnya membuang ‘telepon merah’ yang telah berada di sekitar kami begitu lama.” Namun, Obama tetap menghubungi para kepala negara, termasuk presiden Indonesia dengan “telepon merah” –yang warnanya hitam– dari Gedung Putih.
 


Historia / Hendri F. Isnaeni

Follow @GALABERITA

Australia Repot, Koordinatnya Bergeser 1 Meter ke Utara

Jokowi Siap Bertarung dengan Para Penggugat UU Tax Amnesty

Uber Berinvestasi Rp 6,5 Triliun dalam Proyek Pemetaan Global

Sri Mulyani Stop Semua Proses Pemeriksaan Pidana Pajak

Ada Komunitas Muslim LGBT Queer di Amerika Serikat

Australia Repot, Koordinatnya Bergeser 1 Meter ke Utara

Jokowi Siap Bertarung dengan Para Penggugat UU Tax Amnesty

Uber Berinvestasi Rp 6,5 Triliun dalam Proyek Pemetaan Global

Sri Mulyani Stop Semua Proses Pemeriksaan Pidana Pajak

Ada Komunitas Muslim LGBT Queer di Amerika Serikat

Perkembangan Properti Mewah di Enam Negara Asia

Allah Menciptakan Manusia Untuk Berjuang

Asteroid Diprediksi Hantam Bumi Akibatkan Bencana Besar

Fethullah Gulen: Saya Menyerahkan Diri Saya Kepada Tuhan

Menurut Ahok: Sunny Tanuwidjaja adalah Penasehat Politiknya

New York Post Ungkap Foto-foto Bugil Istri Donald Trump

Gaya Hidup Tepat Waktu Bangsa Swiss

Apa Yang Terjadi pada Otak Ketika Anda Dikhianati?

Aksi Terjun dari Ketinggian 7.620 Meter Tanpa Parasut

UNICEF Minta Ibu yang Sedang Menyusui Bayi ber-Selfie

PayTren, Aplikasi Bertransaksi dari Bandung yang Mulai Mendunia

Banyak Dibaca

Demi Menyusui Pacarnya Tiap Dua Jam, Wanita Ini Berhenti Bekerja

Dewan Kesepian Jakarta: Menjadi jomblo dan tetap baik-baik saja

Ini 8 Diktator Paling Kejam dalam Sejarah Dunia

Orang Ambivert adalah Ekstrovert sekaligus Introvert

Generasi Tanpa Ayah, Anak-Anak yang Terlahir dari Wisata Syahwat

Beginilah ISIS Jual Minyak Curian Ke Israel via Turki

PayTren, Aplikasi Bertransaksi dari Bandung yang Mulai Mendunia

Sering Salah Panggil Nama Orang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Suatu Malam di Majelis Zikir Sufi di Katedral St. John

Perubahan Urutan Pancasila dan Perdebatan Syariat Islam di Piagam Jakarta

Kisah Perempuan Indonesia Penyelamat Harimau

Bisakah Otak Berkembang Setelah Usia Dewasa? Bisa, Ini Caranya

Hadeuh ... Jokowi Adu Panco dengan Kaesang, Lihat Videonya:

Mengapa Manusia Bisa Merasakan Jika Ada Seseorang yang Menatapnya?

Ingin Awet Muda, Olahraga dan Kurangi Berat Badan

  • Homearrow
  • NEWS & FEATURESarrow
  • FEATURES
Powered by Helix
Copyright © GALABERITA 2016 Vina Junies. All Rights Reserved.Valid XHTML and CSS
Joomla! 3 Templates

Valid CSS!

Flattr this
  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • TV
    • CNN
    • RTNEWS
    • DW
    • ALJAZEERA
    • TVONE
    • METROTV
    • KOMPASTV
    • CCTV AMERICA
    • NHK WORLD
    • EURONEWS
    • I-NEWS
    • NET
    • FASHIONTV
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC