Segala sesuatu di dunia seperti roda yang berputar. Kadang ada di atas, namun tak lama kemudian bisa ganti berada di bawah. Hal ini terbukti nyata bagi sepak bola Brasil. Sekitar 15 tahun lalu, mereka menjadi rujukan bagi segenap pihak. Namun, kini, Brasil terpuruk ke posisi terbawah yang tidak bisa diketahui sampai kapan akan bangkit.

Dua dekade lalu, sepak bola Brasil menuai puja-puji. Permainan mereka menjadi standar sepak bola di level tertinggi. Joga Bonito ciri khas mereka membius siapa saja. Puncaknya ialah kemampuan menjuarai Piala Dunia 2002 yang menjadikan Selecao sebagai tim dengan kolektor trofi Piala Dunia terbanyak.
Akan tetapi, sesudah itu, sepak bola Brasil kian menurun. Tiada lagi pemain-pemain kelas satu yang selalu menjadi kandidat calon peraih Ballon d’Or dari sana. Paling banter hanya Neymar Jr. yang kini bisa dikedepankan oleh Negeri Samba. Padahal, dulu mudah saja mencari para pemain yang sepadan dengan Neymar seperti Romario, Rivaldo, Ronaldo, hingga Ronaldinho.
Puncak penurunan prestasi sepak bola Brasil baru terjadi bulan Juni 2016 lalu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Brasil tersingkir di fase grup sejak Copa America menggunakan format grup pada 1987. Hal itu meneruskan kegagalan pahit ketika terlempar dari Piala Dunia 2014 pada semifinal dengan kekalahan telak 1-7 dari Jerman di kandang sendiri.
Banyak opini tentang penyebab penurunan prestasi sepak bola Brasil. Mantan pemain legendaris mereka, Pele, menilai semua disebabkan oleh kesalahan Brasil yang malah memalingkan muka dari tradisi permainan sendiri.
“Negara-negara Amerika Selatan lain seperti Argentina, Cile, dan bahkan Ekuador sekarang memainkan sepak bola yang lebih cantik dari Brasil. Anda bisa melihatnya pada dua Copa America terakhir (Copa America 2011 dan 1015, Red.). Kami kalah dari Paraguay dalam adu penalti (di perempat final Copa America 2015, Red.),” kata Pele.
Sementara itu, mantan pelatih Selecao, Mano Menezes memiliki pendapat lain yang lebih realistis. Dia mengakui bahwa sepak bola Brasil kini jauh tertinggal dari Eropa. Penyebabnya ialah Brasil tidak mampu lagi mengembangkan pemain menjadi pesepak bola berkualitas.
“Kami masih memiliki kemampuan dribel, talenta individu dengan kemampuan tinggi, tapi kami tidak tahu lagi cara mengembangkan pemain seperti yang kami lakukan dulu. Itulah alasan kami tertinggal jauh di belakang,” ujar Menezes.
Sepak bola terus berkembang. Hal itu membuat cara dan sistem yang dulu tidak lagi cocok. Kalau terus mempertahankannya, siapa pun pasti akan tergilas karena tertinggal perkembangan zaman.
Sepak bola Brasil tengah seperti itu. Namun, hal ini bukannya tidak bisa diatasi. Masa-masa suram dalam sepak bola bisa dialami siapa saja dan tetap dapat dilewati. Contoh terbaik terkait hal tersebut ialah Jerman dan Spanyol. Kedua negara itu bisa menata diri dan merevitalisasi sepak bola di negerinya sehingga kini bangkit menjadi kekuatan papan atas.
Kekurangan Brasil
Hal krusial dalam merevitalisasi sepak bola ialah pengorganisasian dan perencanaan. Sayangnya, dua hal itu tidak dimiliki oleh Brasil pada saat ini.
Negeri Samba mirip seperti negara berkembang lain. Kemampuan mengorganisasi dan merencanakan segala sesuatu dengan berpikir panjang masih sangat kurang. The Brazil Business bahkan mengakui di negaranya terdapat kebiasaan buruk yang dikenal sebagaiJogo de Cintura.
Pada dasarnya Jogo de Cintura ialah kegemaran untuk mengambil tindakan atau putusan pada detik terakhir dengan melanggar atau menyiasati aturan. Hal ini sejatinya merupakan bentuk dari ketidakmauan untuk merencanakan maupun mengorganisasi dengan baik. Alhasil, semua dilakukan dengan asal-asalan.
Padahal, dalam merevitalisasi sepak bola, Jogo de Cintura harus dihindari. Sebab, revitalisasi sepak bola membutuhkan organisasi yang baik karena semua pihak mesti terlibat. Selain itu, langkah itu bukanlah sulap yang bisa langsung mengubah segala sesuatu dengan instan. Lihat saja, negara-negara yang berhasil melakukannya seperti Jerman dan Spanyol butuh waktu sekitar sepuluh tahun sebelum menuai buahnya saat ini.
Tak aneh, Menezes masih pesimistis dengan masa depan sepak bola Brasil. Dia berkata, “Kami tahu persis masalah dalam sepak bola kami, tapi kami tidak tahu cara memperbaikinya atau tidak punya orang yang kapabel dengan pengetahuan untuk mengambil jalan yang tepat.”
Sangat disayangkan, namun itulah kenyataan yang terjadi. Sepak bola Brasil masih akan terpuruk sampai ada langkah perbaikan yang dilakukan.
Asis Budhi Pramono / National Geographic

