Beberapa jam setelah kudeta, para pendukung Presiden Tayyip Erdogan turun ke jalan untuk menentang kudeta militer.
Tiba-tiba, setelah jam 1 tengah malam, 300 hingga 400 orang mulai berbaris di jalan, datang dari kawasan Kasimpasa, tempat Erdogan dilahirkan. Sambil meneriakkan "Tuhan Maha Besar," mereka berjalan ke arah para tentara.
Para tentara kemudian menarik diri ke ujung lapangan tersebut.

Warga Turki berusaha menghentikan kendaraan lapis baja yang memasuki Ankara, Turki.
Kegiatan wartawan VOA Dorian Jones malam itu terhenti ketika mendengar berita kegiatan militer dan laporan tembakan di ibukota Ankara dan di Istanbul. Helikopter militer tampak terbang di kota itu.
Jones mengatakan ada laporan yang mengatakan telah terjadi konfrontasi besar antara tentara dan polisi dekat pusat kota Istanbul. Ia mengatkan perdana menteri memerintahkan polisi kembali ke pos mereka untuk melawan kudeta, yang menurut Perdana Menteri Binali Yildirim akan dihentikan. Erdogan menyerukan pendukungnya untuk turun ke jalan.
Namun, Jones mengatakan adalah nasib presiden sedang dipertanyakan, keberadaannya tidak diketahui. Para diplomat barat mengatakan mereka mendengar kabar bahwa presiden berada di bawah kendali militer.
Jones, yang telah lama tinggal di Turki, mengatakan ketegangan antara militer sekuler Turki dan pemerintah Erdogan yang lebih Islamis telah berlangsung sejak Erdogan menjadi presiden pada tahun 2014. Ia mengatakan dalam beberapa minggu terakhir, kekhawatiran tentang serangan teroris mematikan di Turki semakin meningkat, serangan pemerintah terhadap minoritas Kurdi Partai Pekerja Kurdistan dan upaya Erdogan untuk memperkuat kontrol atas media dan institusi lainnya mungkin memicu aksi militer ini.

