Presiden Turki menegaskan keyakinannya bahwa pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan kesempatan untuk membuka "halaman baru" dalam hubungan bilateral.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa ia mengharapkan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pekan ini akan membuka "halaman baru" dalam hubungan bilateral antara kedua negara.
Dalam wawancara dengan kantor berita Rusia Tass. Keterbukaan menuju pemulihan hubungan diplomatik. Kerjasama dengan Kremlin muncul setelah Ankara berulang kali menuding para pejabat militer dan intelijen AS mendalangi kudeta gagal disamping perundingan keanggotaan Turki di Uni Eropa selama belasan tahun hanya memperoleh hasil yang mengecewakan.
Presiden Erdogan dijadwalkan bertemu Presiden Putin di kota St. Petersburg untuk mengakhiri meningkatnya periode ketegangan antara Moskow dan Ankara menyusul ditembak jatuhnya jet tempur Rusia di sepanjang perbatasan Suriah, November tahun lalu.
Insiden itu memicu pertikaian diplomatik antara kedua negara karena Turki menolak meminta maaf atas insiden dengan mengatakan bahwa jet tempur Rusia memasuki sepuluh meter wilayah udara Turki selama 16 detik. Dan Turki sudah emberikan peringatan kepada pilot Rusia sebelum ditembak. Sedangkan Rusia menolak klaim Turki atas insiden itu
Selanjutnya Turki menyatakan bahwa keputusan untuk menembak jatuh jet tempur Rusia didorong oleh komplotan kudeta atas perintah NATO dalam upaya mencegah menormalkan hubungan Turki dengan Rusia. Presiden Turki Erdogan pada akhirnya mengeluarkan pernyataan minta maaf kepada Moskow delapan bulan setelah kejadian, setelah upaya kudeta mengalami kegagalan.
Presiden Turki melihat upaya kudeta gagal sebagai kesempatan untuk memulai hubungan baru dengan Rusia meskipun dibayangi masa lalu yang tragis. "Ini akan menjadi kunjungan bersejarah, awal baru," kata Erdogan. "Pada pembicaraan dengan teman saya Vladimir (Putin), saya percaya, halaman baru dalam hubungan bilateral akan dibuka. Negara kami memiliki banyak yang harus dilakukan bersama-sama. "
Ankara juga bertindak untuk menunjukkan dukungan mereka membangun kembali hubungan dengan Rusia dengan mendukung posisi Moskow pada krisis yang terjadi di Suriah.
Tanpa partisipasi Rusia tidak mungkin menemukan solusi untuk masalah Suriah, "kata Erdogan." Hanya dalam kemitraan dengan Rusia kita bisa menyelesaikan krisis di Suriah. "
Di masa lalu, Turki telah menentang posisi Rusia mendukung Presiden Bashar al-Assad untuk menstabilkan negara dengan fokus utama adalah untuk membasmi momok Daesh terorisme pertama dan terutama. Sebaliknya, Ankara telah lama mendukung upaya Washington untuk mengusir Assad
Dodiek Suprianto.
Sumber: Sputnik






