Puluhan ribu warga Palestina hidup tanpa air minum yang aman di tengah terik panas dan bulan puasa Ramadan setelah Israel menghentikan pasokan air ke daerah-daerah kunci di Tepi Barat.
Warga Palestina yang menderita pemotongan air meliputi lebih dari 40.000. diantara mereka 16.000 pengungsi yang tinggal di kota Jenin di mana persediaan air telah dipotong setengahnya harian Inggris The Independent melaporkan.
Tempat-tempat lain yang terkena dampak telah terdaftar berada di beberapa desa di daerah Nablus, dan kota Salfit dan desa-desa sekitarnya.
Langkah Israel ini sebagai akibat datangnya musim panas yang disertai gelombang panas telah menembus angka 35 derajat Celcius di beberapa tempat di seluruh wilayah-wilayah pendudukan.
Seorang juru bicara untuk pemerintah Israel mengatakan kepada The Independent bahwa laporan tersebut "tidak benar " dengan mengatakan kekurangan air itu karena pipa air rusak.
Pada tahun 1967, Israel menduduki Tepi Barat, Timur al-Quds (Yerusalem) dan Jalur Gaza. Sejak pendudukan, Tel Aviv telah melakukan pembatasan jumlah air yang dipasok ke Tepi Barat dan Gaza.
Amnesty International yang berbasis di London menggambarkan laporan penghentian pasokan air sebagai "mengkhawatirkan."
"Israel hanya memberikan kepada warga Palestina akses ke hanya sebagian kecil dari sumber air bersama di Tepi Barat yang diduduki," kata peneliti Amnesty Saleh Hijazi.
Dia mengatakan pemukiman ilegal Israel semakin membutuhkan "pasokan air hampir tak terbatas yang memungkinkan pemukim illegal itu menjaga taman yang rimbun dan bahkan mengisi banyak kolam renang pribadi."
Menurut Amnesty, hampir 200.000 warga Palestina di Tepi Barat tidak memiliki akses ke air yang mengalir, dan memerlukan izin sebelum mengumpulkan sendiri.
Didik Aditya
Sumber: Press TV
