• Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC
  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    • GAYA
    • PSIKOLOGI & KESEHATAN
    • PERSONA
    • RILIS
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC

Para Ilmuwan Temukan Cara Baru Penyimpanan CO2

Follow @GALABERITA
Category Category: SAINSTEKNO

Para ilmuwan menemukan cara baru dalam menyimpan karbon dioksida (CO2) yaitu dengan menyuntikkan CO2 ke dalam tanah basal vulkanik dan mengubahnya menjadi padat. Cara penyimpanan ini tentu ebih menjanjikan dalam penyimpanan gas rumah kaca biang keladi perubahan iklim di dalam tanah.

 

Para ilmuwan mampu memompa emisi karbon ke dalam Bumi dan mengubah gas menjadi padat dalam beberapa bulan, Secara radikal lebih cepat dari prediksi sebelumnya yang menunjukkan bahwa proses tersebut dapat membutuhkan waktu ratusan atau bahkan ribuan tahun.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada Kamis (9 JUni 2016) itu merupakan bagian dari proyek percontohan yang diluncurkan pada 2012 di pembangkit listrik tenaga panas bumi Hellisheidi Islandia.

Para ilmuwan dan insinyur melakukan percobaan dengan menggabungkan CO2 dan gas-gas lain dengan air dan kemudian memasukkannya ke dalam tanah lewat pipa.

Ilmuwan  ingin mengembangkan metode untuk menyimpan secara aman CO2 yang jika tidak disimpan akan menuju atmosfer dan menyumbang pemanasan global.

Pembangkit Hellisheidi,merupakan  fasilitas panas bumi terbesar di dunia, memompa air yang dipanaskan secara vulkanik untuk menggerakkan turbin.

Proses itu menghasilkan 40.000 ton CO2 per tahun, hanya lima persen dari emisi pembangkit seukuran serupa yang berbahan bakar batu bara.

Selama bertahun-tahun para peneliti menyarankan pembatasan pemanasan global menggunakan penangkap karbon dan metode pemerangkapan semacam itu, tapi mengembangkan teknologi itu terbukti tidak mudah, demikian seperti dilansir kantor berita AFP.

 

Sumber: ANTARA

 

 

Follow @GALABERITA
Follow @GALABERITA
  • Homearrow
  • NEWSarrow
  • SAINSTEKNO
Powered by Helix
Copyright © GALABERITA 2016 Vina Junies. All Rights Reserved.Valid XHTML and CSS
Joomla! 3 Templates

Valid CSS!

  • Home
  • NEWS & FEATURES
    • NASIONAL
    •  
    •  
    • ENTERTAINMENT
    • SAINSTEKNO
    •  
    •  
    •  
    •  
    • FEATURES
    • OPINI
  • LINK
    • DETIK
    • TEMPO
    • KOMPAS
    • DW
    • BBC
    • VOA
    • YOUTUBE
    • NATIONAL GEOGRAPHIC