Melihat kehidupan muslim yang minoritas di Amerika menjadi hal yang menarik. Apalagi mendengar kisah tentang para muslim yang bekerja di White House, yang merupakan kantor Presiden AS Barack Obama.
Dikutip dari Alarabiya News Chanel, Senin (13/6/2016) di Gedung Putih terdapat 3 pekerja muslim. Mereka adalah Laila El Gohary, Lori Ismail dan Adel Ginwala.
Lori Ismail lahir di Dearborn, Michigan, salah satu tempat perkumpulan Arab terbesar di Amerika. Saat ini, Ismail bekerja di Kantor Hubungan Legislatif AS. Setelah lulus dari University of Michigan di Ann Arbor, ia memulai karirnya di Washington dengan bekerja sebagai relawan untuk Senator Carl Levin.
Pilihannya tersebut ternyata tidak datang dengan mudah, terutama karena tekanan dari keluarga yang sangat mengarahkan karirnya ke bidang bisnis, kesehatan atau teknik. Ismail termotivasi oleh ide membuat perubahan di dunia melalui pelayanan publik.
Pada bulan September 2014, ia bergabung dengan Dewan Ekonomi Gedung Putih, kemudian mendapatkan kesempatan di bidang Hubungan Legislatif sebagai penghubung antara Gedung Putih dan Kongres.
Selama bekerja di Gedung Putih, Ismail tidak mengalami diskriminasi sama sekali mungkin karena nama depannya adalah Lori.
"Di tempat saya bekerja, terdapat banyak orang dari berbagai latar belakang. Tapi saya tidak merasa terkucilkan meskipun saya adalah orang Arab atau Muslim," jelas Ismail.
Ketika ditanya bagaimana tanggapannya mengenai dirinya yang dijadikan panutan bagi para Arab-Amerika muda, terutama wanita, ia tersenyum dan berkata "Saya tidak tahu apakah saya layak dijadikan panutan, tapi mungkin posisi saya di sini dapat mendorong dan memberikan mereka gambaran dari pelayanan publik."
Sementara itu, Laila el-Gohary mengundurkan diri dari pekerjaan yang cukup nyaman di kantor hubungan masyarakat milik Eropa dan berkeliling dunia sebagai relawan untuk kampanye kedua Barrack Obama.
Keluarganya menganggap ia gila, tapi Gohary bertekad untuk membuat perubahan. "Walaupun saya hanya menolong satu orang saja, saya merasa itu sudah cukup bagus," jelasnya.
Setelah pemilihan, ia bekerja di Departemen IT di Kantor Kepresidenan. Setelah bekerja selama beberapa tahun, ia masih tidak bisa percaya kalau setiap pagi ia berjalan melewati gerbang Gedung Putih untuk bekerja.
"Mimpiku ketika masih kecil adalah bisa bekerja di Gedung Putih. Aku tidak ingin menjadi presiden atau menteri di kabinet, aku akan sangat senang bekerja sekalipun hanya menjadi pelayan atau tukang bersih-bersih di sana. Aku hanya ingin menjadi bagian dari terbentuknya sebuah sejarah," tutur Gohary.
Gohary lahir di Amerika Serikat, namun kemudian pindah bersama keluarganya ke Arab Saudi dan kemudian ke Bahrain. Ia juga pernah tinggal sebentar di Kairo sebelum kembali menjadi relawan pada kampanye ulang Obama.
Gohary dan Ismail sangat percaya bahwa lebih baik berada dalam satu meja, menjadi bagian dari pembicaraan dan mengkritisi langsung daripada mengkritisi pemerintah dari luar.
Gohary berkata ia sangat senang bekerja untuk Obama, tetapi ia belum pernah bertemu langsung dengan pria yang memberikannya pekerjaan. Ia hanya bisa melihat Obama dari kejauhan.
Sementara untuk Ginwala, yang dipanggil dari New Jersey dan merupakan pendatang baru di Gedung Putih, sangat gembira dapat mendapat kesempatan untuk melayani Presiden.
Bekerja sejak Oktober 2015 di Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi, Ginwala mengatakan motivasinya melayani pemerintah dimulai pada waktu Konvesi Demokratis Nasional tahun 2004, ketika Obama berpidato mengenai AS yang tertarik padanya.
Segera setelah itu, ia bergabung dengan kampanye politik pertama Obama hingga akhinya dia mendapat pekerjaan di Gedung Putih.
"Sebagai seorang Amerika, ini merupakan suatu kehormatan besar. Ini merupakan hak istimewa. Ini merupakan tantangan untuk berjalan melewati gerbang itu setiap hari, dan ketika saya melihat Presiden berjalan, itu sangat menyenangkan," jelas Ginwala.
Ginwala melihat identitas Muslimnya sebagai sebuah kekuatan.
"Menjadi seorang Muslim di sini, merupakan suatu kesempatan untuk menunjukkan kepada anak-anak Muslim lainnya yang merasa kalau mereka berbeda, bahwa akan selalu ada tempat di sana untuk mereka dan tidak ada yang tidak bisa mereka lakukan," tuturnya.
Presiden Barrack Obama yang dikenal sebagai figur yang terbuka dan menjunjung tinggi toleransi menyatakan akan menggelar open house di Gedung Putih pada saat Idul Fitri nanti.
"Sebagaimana yang saya lakukan selama masa kepresidenan saya, saya menantikan untuk membuka pintu Gedung Putih kepada Muslim Amerika selama hari istimewa - tahun ini untuk Hari Raya Idul Fitri yang menandai akhir Ramadan," kata Obama dalam keterangan pers resmi Gedung Putih Rabu (8/6/2016) lalu.
Obama menyatakan bulan puasa dan Idul Fitri tahun ini adalah yang terakhir baginya selama menjabat sebagai Presiden AS. Dia menyatakan open house di Gedung Putih adalah suatu penghormatan bagi Muslim AS dan Muslim dunia pada umumnya.



